Misteri Puncak Ararat

Buku ini merupakan buku kedua dari Trilogi Battle for Solomon’s Treasure. Tokoh-tokoh di buku ini masih sama dengan buku pertama (Rahasia Kaum Falasha), yaitu Esa, Nisa, dan adiknya Dino, namun setidaknya Dino lebih mendapat peran di dalam buku ini. Secara garis besar buku ini menceritakan tentang petualangan memcahkan keberadaan dan tempat terdamparnya bahtera Nabi Nuh a.s. Buku ini sepertinya berusaha memberikan (alternatif) jawaban tentang dimanakah bahtera Nabi Nuh a.s. berlabuh karena buku ini membandingkan antara ayat Al-Qur’an dan ayat Bibel yang sama-sama menceritakan peristiwa banjir besar, selamatnya kaum Nuh yang bersama-sama Nuh naik ke Bahtera dan akhirnya bahtera tersebut mendarat di sebuah gunung atau pegunungan, namun Al-Qur’an dan Bibel menyebutkan nama tempat yang berbeda, yaitu Al-Qur’an menyebutkan Gunung Judi, sedangkan Bibel (Perjanjian Lama) menyebutkan Pegunungan Ararat.
Cerita bermula ketika Dino mendapat kesempatan untuk bergabung dalam tim pendakian internasional dari sebuah perusahaan multinasional yang bernama i-ozon. Dino dan kelompoknya mendapat bagian mendaki Gunung Ararat sebagai awal dari tujuan utama pendakian yaitu Gunung Himalaya. Namun hal yang tidak diduga terjadi, pemandu kelompok Dino ditembak kepalanya oleh sekelompok orang bersenjata di Gunung Ararat, lalu Dino dan kawan-kawannya ditawan oleh kelompok tersebut. I-ozon lalu menyatakan kelompok Dino hilang. Berita ini pun sampai kepada kakak dan kakak ipar Dino, Nisa dan Esa. Akhirnya Esa dan Nisa, yang sedang mengandung tujuh bulan, pun berangkat ke Yerevan, ibukota Armenia, sebagai perbatasan terdekat dengan Gunung Ararat untuk memantau dan membantu pencarian. Namun tidak disangka keberangkatan mereka kesana mengantarkan mereka kepada petualangan baru yang membawa mereka kepada suatu fakta yang mencengangkan, yaitu terdapat sekelompok orang yang menamai diri mereka Milisi Thamanin yang merupakan keturunan dari para penghuni bahtera Nabi Nuh a.s. dan menyatakan diri mereka sebagai penjaga dari bahtera suci tersebut. Selain itu, kelompok inilah yang diduga kuat sebagai penculik rombongan Dino.
Menurut saya novel ini sangat menarik karena didalamnya terdapat paduan fakta-fakta sejarah, wawasan-wawasan umum, pertaruhan keotentikan ayat-ayat kitab suci yang menceritakan tentang bahtera Nabi Nuh a.s., dipadu dengan kisah romantisme cinta, yang diracik dengan apik oleh penulisnya dengan bahasa yang enak dibaca, dan tentu saja tetap terasa dengan nuansa islaminya.
Identitas Buku :
- Judul : Misteri Puncak Ararat
- Penulis : Mahardhika Zifana
-Penerbit : Edelweiss
- Genre : Roman-Petualangan-Religius
- Tahun Terbit : Juni 2009 (Cetakan I)
Rahasia Kaum Falasha

Ini adalah (mungkin) novel pertama, setidaknya yang saya baca, yang mengisahkan tentang petualangan muslim indonesia dalam perburuan harta karun Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Buku ini merupakan buku pertama dari trilogi Battle for Solomon’s Treasure yang dibuat oleh penulisnya. Novel yang berjudul Rahasia Kaum Falasha ini bercerita tentang petualangan beberapa muslim asal Indonesia dalam menyelmatkan harta karun Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, yaitu Tabut Perjanjian (The Ark of Covenant) yaitu benda yang disucikan oleh umat Yahudi, berbentuk peti yang berisi gulungan kitab Torah (Taurat) yang asli dan dua lauh batu bertuliskan 10 Perintah Tuhan (The Ten Commandements) yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Musa ‘alaihissalam di bukit Tursina, dan juga berisi potongan Manna dan Salwa-makanan dari surga.Tabut Perjanjian ini merupakan lambang dari tahta dan kekuasaan
Cerita di novel ini dimualai dengan adegan terbunuhnya Heri, mahasiswa asal Indonesia yang sedang mengadakan penelitian di Ethiopia untuk kepentingan kuliahnya. Ternyata yang membunuhnya adalah sekelompok Zionis yang menamakan dirinya Knights of Zion, karena ternyata heri menemukan kunci untuk menuju tempat penyimpanan Tabut Perjanjian tersebut. Sebelum menghembuskan nafas terkahirnya, Heri, sempat menitipkan kunci tersebut kepada rekannya, Indra, dan menyuruhnya untuk mengirimkannya ke sahabatnya, Esa, di Indonesia. Petualangan pun berlanjut dengan Esa, Indra, dan teman-temannya demi menyelamatkan harta karun tersebut dari tangan para Zionis. Petualangan ini berlangsung hingga melintasi berbagai negara dan menyebabkan terbunuhnya beberapa rekan mereka.
Menurut saya novel ini cukup menarik karena novel ini tidak hanya menyuguhkan cerita rekaan saja, namun juga berbagai fakta dan wawasan, mengingat penulisya telah melakukan riset selama tiga tahun lebih. Salah satu wawasan yang menarik bagi saya adalah tentang kitab Kebra Nagast, yaitu kitab yang berisi kronik kaisar-kaisar di Ethiopia yang merupakan Dinasti Solomonic atau keturunan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dengan Ratu Balqis. Mungkin novel dengan genre seperti ini memang sudah banyak, namun novel ini memberikan rasa baru karena dibuat dengan sudut pandang baru (dari sisi Islam) dan mengacu pada Al Qur’an yaitu surah Al Baqarah ayat 248.
Identitas Buku :
Judul : Rahasia Kaum Falasha
Penulis : Mahardhika Zifana
Penerbit : Edelweiss
Tahun Terbit : Februari 2009 (cetakan pertama)
Genre : Roman-Petualangan-Religius
Umat Islam AS adakan Shalat Jum’at di Capitol Hill

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat Islam Amerika akan menggelar shalat Jum’at di Capitol Hill, gedung kongres Amerika Serikat. Peristiwa ini tentu akan menjadi momen yang sangat bersejarah bagi umat Islam Amerika. Acara yang dikoordinasi oleh Masjid Darul Salam, salah satu masjid di New Jersey, yang dilaksanakan hari ini (25/9), diharapkan dapat membawa dampak positif bagi citra umat Islam khususnya di Amerika Serikat. Pada shalat Jum’at ini, menurut ketua pelaksana acara ini, tidak ada muatan politik apapun, acara ini hanya bertujuan untuk spiritualitas dan tauhid. Tidak ada plakat ataupun seru-seruan tertentu karen fokus dari acara ini adalah semangat dari umat Islam dan kekhusyuan ibadah.
Tentangan dan ancaman untuk mengganggu jalannya acara ini memang ada dari suatu kelompok tertentu, namun umat muslim AS tidak surut, bahkan beberapa pakar agama dan politik AS mendukung dan memuji sikap dari muslim AS tersebut. Semoga acara ini menjadi salah satu tanda bangkitnya Islam di akhir zaman ini…
Saudi bangun kampus yang bolehkan campur baur pria-wanita
Anda tentu tahu Arab Saudi. Ya, negara berbentuk kerajaan di timur tengah dimana dua kota suci umat Islam berada. Selama ini masyarakat umum tahu bahwa pelakasanaan syariat Islam di negara ini cukup ketat (apalagi dibanding negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini). Namun, menurut berita terbaru, seperti yang dilansir oleh situs eramuslim.com, negara ini sedang membangun sebuah kampus yang di dalamnya pria dan wanita boleh bercampur. Kampus yang katanya super canggih ini bernama King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) dan peresmiannya dihadiri langsung oleh Raja Abdullah bin Abdulaziz as Saud dan juga beberapa pemimpin dunia.
Seperti telah disebutkan diatas, kampus ini memperbolehkan bercmpur baurnya pria dan wanita, baik itu di ruang kelas ataupun di kafe. Kampus ini juga memiliki peralatan canggih berteknologi tinggi senilai 1,5 dolar dan telah memiliki superkomputer tercepat di dunia. Sebagai tambahan, kampus ini dijalankan oleh perusahaan minyak Aramco dan diluar kendali departemen pendidikan Arab Saudi
Untuk info lebih lengkapnya silahkan klik
Idul Fitri di Gereja ?
Beberapa hari yang lalu, seluruh umat Islam di dunia baru saja merayakan salah satu hari besar Islam yaitu Hari Raya ‘Idul Fitri atau yang lazim kita sebut sebagai lebaran. Biasanya umat muslim di seluruh di dunia akan merayakan Idul Fitri ini dengan melaksanakan shalat Ied baik itu di masjid-masjid atau di lapangan. Namun, bagi umat Islam di London, Inggris, tahun ini ,1430 H, tradisi ini terpaksa dilakukan di gereja. Hal ini setidaknya sudah berlangsung selama 6 tahun kebelakang. Hal ini terjadi karena tidak mencukupinya jumlah masjid dan tidak memadainya kapasitas masjid di London untuk menampung jumlah jama’ah shalat Ied, sehingga mereka terpaksa mencari tempat lain yang lebih memadai.

Pilihan jatuh pada gereja karena umumnya harga sewa gedung serbaguna dan gedung-dedung yang biasa diapakai untuk even-even disana sangat mahal apalagi dibandingkan dengan harga sewa gereja yang murah. Memang pada awalnya umat muslim disana sempat ragu untuk menyewa gereja, namun ternyata pihak gereja menyambut baik niatan tersebut, bukan malah melarangnya. Maka terlaksanalah kerjasama tersebut dan umat muslim disana dapat merayakan Iedul Fitri di tempat yang lebih memadai.
“Tragedi” Pulang Bersama

Hari itu sabtu, hari dimana saya dan teman-teman sedaerah dengan saya mengadakan acara Pulang Kampung Bersama, sebut saja begitu, dalam rangka libur Idul Fitri di tahun ini.
Kami berencana berkumpul di gerbang depan kampus tercinta kami, yang berlambang gajah duduk, pada pukul 05.00 WIB. Jadi, sebagai konsekuensi dari rencana tersebut, sehabis sahur saya langsung mandi (brrr gak dingin-dingin amat sih).
Kenapa kami berencana berangkat begitu pagi? Karena kami semua ingin mendapat kesempatan untuk berbuka puasa di rumah masing-masing setelah menempuh perjalanan (karena normalnya perjalanan sampai ke daerah asal kami butuh waktu 10-12 jam)
Setelah sholat subuh di masjid dekat kosan, saya dan teman satu kosan saya, yang juga satu daerah, langsung berangkat ke kampus menuju gerbang depan. Sesampainya disana ternyata sudah banyak teman kami yang menunggu. Beberapa saat kemudian, bus yang sedianya akan mengangkut kami datang dan kami pun menjadi riang karenanya. Setelah kami memilih tempat duduk masing-masing, tiba-tiba sang ketua perkumpulan kami berkata (kurang lebih begini), “Temen-temen, di bus ni masih ada kursi kosong 11, jadi bus ini mau sambil nyari penumpang di jalan, ga pa pa ya..?”. Pada mulanya kami fine-fine saja mendengar itu, namun ternyata dampaknya baru terasa beberapa jam kemudian.
Ketika bus sudah berjalan sekitar 2-3 jam, saya dan teman sebelah saya menyadari bahwa kecepatan bus ini lebih rendah dari bus-bus yang biasa kami tumpangi (padahal saat itu kami ada di jalan tol dan kondisinya lengang), hal ini yang membuat kami berdua mulai gelisah. Hal berikutnya adalah, di perjalanan bus ini sering sekali berhenti alias ngetem dan bus ini ngetem di tempat-tempat yang tidak lazim (bahkan sempat di samping kompleks pemakaman), yang tentu saja berdampak pada molornya waktu perjalanan. Kami semua bertambah gelisah ketika pada jam yang menurut perhitungan kami seharusnya kami sudah berada dalam kapal, kami masih ada di jalan dan hal ini membuat beberapa kami mulai cemas tidak akan sempat berbuka puasa di rumah.
Kekesalanku memuncak ketika kami baru memasuki kapal sekitar pukul 15.00 WIB, padahal waktu normal bagi kapal untuk menyberang adalah 2,5 jam, pada taraf ini bahkan ada beberapa teman kami yang terancam tidak dapat sampai kerumahnya pada hari itu karena menurut perkiraan pada saat bus ini sampai di terminal maka teman-teman kami tersebut tidak akan kebagian angkutan berikutnya ke daerah mereka dan mereka terpaksa harus menginap untuk menunggu angkutan berikutnya keesokan harinya. Kekhawatiran semakin mendekati kenyataan ketika kami harus berbuka puasa di jalan walaupun beberapa saat kemudian kami sampai di rumah makan. Beruntung bagiku karena rumah makan itu sudah berada di daerahku dan aku hanya perlu menelepon ayahku untuk minta dijemput. Beberepa temanku sudah positif tidak dapat sampai di rumah pada hari itu.
Hipotesisku dan teman-teamanterbukti setelah keesokan siangnya saya menerima sms dari teman yang berinisial MALN bahwa ia baru saja sampai di rumah!! Heh…benar-benar perjalanan yang melelahkan, bayangkan saja perjalanan yang normalnya hanya membutuhkan 12 JAM harus ditempuh dalam waktu 30 JAM !!!!! Sungguh Menyebalkan…!!!!!
Semoga saja kejadian ini tidak terulang kembali…..
Makanan Penutup…
Hari itu Jum’at sore, tepat hari sebelum aku akan berangkat pulang kampung untuk mengisi liburan Idul Fitri tahun ini.
Hari itu aku dan teman-teman satu divisi di himpunan sudah mempunyai rencana untuk mengadakan buka puasa bareng di salah satu restoran seafood yang cukup populer di Bandung, dan yang membuat kami lebih semangat adalah yang menanggung ongkos makan kami disana adalah si bos alias ketua divisi kami.
Kami berangkat pukul lima sore dari kampus (setelah aku selesai dengan urusan KRS ku yang agak ‘bermasalah’). Aku berangkat ke restoran itu dengan menebeng motor temanku, dan ternyata kami berdua sampai lebih dulu disana, dan terpaksa menunggu si bos dan teman-teman yang lain sampai lewat azan magrib karena mereka terjebak macet.
Setelah kami semua berkumpul, ternyata meja yang telah kami pesan sudah dibatalkan oleh pihak restoran karena kami terlambat, alhasil kami terpakasa menunggu sampai ada meja kosong yang cukup untuk menampung jumlah kami yang cukup banyak. Setelah kami mendapatkan meja, kami mulai memesan makanan dan berkenalan satu sama lain (karena aku dan teman-temanku adalah anggota baru). Beberapa saat kemudian makanan-makanan yang kami pesan pun berdatangan, namun setelah sekian lama menunggu, makanan yang datang ke mejaku dan dua orang temanku (kami bertiga berkoalisi agar kami dapat memesan makanan yang agak mahal dan lebih banyak karena kami dijatah per orang oleh bos IDR 3xxxx) hanyalah makanan pelengkap, seperti tumis kangkung, terong bakar, dan cumi goreng. Makanan yang menjadi hidangan utama kami belum juga datang setelah semua piring di hadapan kami licin tandas, padahal kami sudah bertanya pada kru restoran tersebut dua kali. Akhirnya setelah kami bertanya pada kru ketiga kalinya, dan setelah kami ditawari untuk membungkus makanan tersebut, hidangan utama kami itu datang dan kami terpaksa menjadikannya sebagai hidangan penutup. Begitu hidangan itu mendarat di meja, kami langsung menyikatnya tanpa nasi (soalnya nasinya juga habis). Yah itulah pengalaman pertamaku (mungkin pengalaman pertama juga buat dua orang temanku itu) makan dengan makanan penutup satu porsi Ikan Gurame Bakar + sambal kecapnya…

Komentar